Tuesday, March 5, 2019

Pertemuan 2 Makna Dan Ruang Lingkup Sosiologi Politik

title

hubungan antar manusia; bahwa perilaku manusia

umumnya dipengaruhi oleh kelompok tempat ia

terlibat sebagai anggota dan oleh interaksi yang

terjadi dalam kelompok itu.

 Ilmu politik juga mempelajari hubungan antar

manusia, terutama menyangkut hubungan

kekuasaan.

 Duverger melihat politik tidak lain tidak bukan

adalah kekuasaan.

 Seiring dengan revolusi behavioral dalam teori

politik, maka unit analisis ilmu politik adalah pada

perilaku individu atau kelompok.

Masyarakat Negara

Kekuasaan dalam

konteks Sosial



Individu

1. Politik bisa dipandang sebagai arena pertarungan untuk

merebut, mengendalikan, dan mempertahankan

kekuasaan di dalam masyarakat. Kekuasaan sebagai

biang konflik dan alat menindas.

2. Politik juga bisa dipandang sebagai upaya menegakkan

ketertiban dan keadilan melalui sarana kekuasaan

sebagai pelindung kepentingan dan kesejahteraan

umum melawan tekanan dan tuntutan berbagai

kelompok kepentingan. Kekuasaan sebagai alat

pengintegrasian.

 Studi tentang fenomena kekuasaan

(pemerintahan, otoritas, komando) di dalam

setiap pengelompokan manusia (bangsa,

kota, asosiasi, buruh, suku, kampung, dsb),

bukan hanya di dalam negara (nation-state)

(Duverger 1989: 19)

 Berupa penelitian mengenai hubungan

antara masalah-2 politik dan masyarakat,

antara struktur sosial dan struktur politik,

dan antara tingkah laku sosial dengan

tingkah laku politik (Rush & Althoff 2003: 5).

Sosiologi politik adalah cabang ilmu sosiologi

yang memperhatikan sebab dan akibat sosial

dari distribusi kekuatan di dalam masyarakat,

dan dengan konflik-konflik sosial dan politik

yang berakibat pada perubahan terhadap

alokasi kekuatan tersebut. Fokus utama dari

sosiologi politik adalah deskripsi, analisis,

dan penjelasan tentang suatu negara, suatu

lembaga yang mengklaim monopoli terhadap

legitimasi pengunaan kekuatan terhadap

suatu wilayah di masyarakat

Secara umum berkaitan dengan “relations

between state and society” (Nash 2000: 1).

Tetapi Nash berpegang pada lonjakan

paradigma pengertian dalam sosiologi

politik dari state centered, class-based

models of participation kepada pemahaman

tentang politik sebagai potensi yang

terdapat dalam semua pengalaman sosial

(an understanding of politics as potential in

all social experiences) (Nash 2000: 2-3).

 Perluasan cakrawala analisis politik

dengan saling memanfaatkan kerangka

analisis sosiologi dan politik untuk

memahami hubungan timbal balik antara

variabel politik dan variabel sosial.

 Praktek kekuasaan dalam kehidupan

sosial sehari-hari, baik yang berhubungan

dengan negara maupun non-negara.

 Kajiannya menyangkut, sosialisasi politik,

partisipasi politik, identitas dan kultur

politik, dan globalisasi kekuasaan.

 Masalah pokok dalam sosiologi politik juga

meliputi: Masyarakat, Negara, Tertib Sosial

dan Perubahannya, Ketimpangan dan

Pelapisan Sosial, Politik, Partisipasi Politik,

dan Kekuasaan.

a) Melihat dan memahami pengaruh masyarakat

terhadap kekuasaan politik atau pemerintah:

i. Secara umum, sosiologi politik mengkaji

hubungan antara MASYARAKAT dan NEGARA

(sama halnya dengan pandangan Nash).

ii. Secara khusus, sosiologi politik mengkaji

kondisi-2 sosial yang mempengaruhi pembuatan

program-2 publik yang ditetapkan pemerintah.

Misalnya pengaruh kelompok-2 sosial tertentu

terhadap penetapan kebijakan-2 publik oleh

pemerintah.

b) Mengkaji bagaimana pengaruh masyarakat terhadap

norma-2 rejim;

i. yaitu mengkaji kondisi-2 sosial yg memungkinkan

terwujudnya suatu demokrasi politik yang stabil,

atau

ii. persyaratan-2 sosial apa yang harus dipenuhi agar

terwujud suatu tatanan politik atau kekuasaan

yang demokratis.

Sosiologi politik merupakan study tentang basis

sosial dari politik.

Terdapat 4 bidang kajian utama dalam sosiologi

politik kontemporer:

(1) the social formation of the modern state,

(2) "who rules"?--that is, how social inequality

between groups (classes, races, genders, etc.)

affects politics,

(3) how social movements and trends outside of the

formal institutions of political power affect

politics, and

(4) power in small groups (e.g. families, workplaces).

Bidang ini juga melihat bagaimana kecenderungan

sosial utama dapat mempengaruhi proses

politik, dengan menggali bagaimana berbagai

kekuatan sosial secara bersama-sama berhasil

merubah kebijakan2 politik.

Beberapa model teoritis dalam sosiologi politik

antara lain (a) the power-elite model, (b) the

pluralist model, dan (c) the Marxist political-

economic model.

 Model power-elite merupakan satu analisis sosiologis

dari ilmu politik yang didasarkan atas teori konflik

sosial yang memandang kekuasaan terkonsentrasi di

sekitar orang-2 kaya.

 Istilah "power elite", ditemukan pada 1956 oleh

pakar teori social-conflict C.Wright Mills, untuk

menggambarkan kelompok the upper class, yang

menurut Mills, menguasai atau mengendalikan

kekayaan, kekuasaan dan prestise dari golongan

mayoritas masyarakat.

 Golongan ini secara teoritis memegang kendali

terhadap 3 sektor utama di dalam masyarakat AS: the

economy, government, dan the military.

 Termasuk juga di antaranya adalah para pejabat tinggi

dalam pemerintahan pusat maupun daerah, orang2

super kaya (super rich), dan pejabat tinggi militer AS.

 Teori power-elite berpendapat bahwa Amerika bukan

negara demokrasi karena kekuasaan dan kekayaan

terkonsetrasi di antara golongan elit kekuasaan yang

membungkam mayoritas warganegara yang ditinggalkan

tanpa hak suara.

 Lebih dari itu, model ini menunjukkan bahwa golongan

elit kekuasaan kurang mendapat oposisi yang

terorganisasi terhadap dominasi mereka dan oleh karena

itu mereka memiliki kontrol yang utuh ke atas

masyarakat.

 Dalam sistem politik yg demokratis, pluralism merupakan

satu panduan prinsipil yang mengakui kehidupan bersama

yang damai dalam perbedaan kepentingan, keyakinan dan

gaya hidup.

 Tidak seperti totalitarianism or particularism, pluralism

mengakui diversity of interests dan menganggapnya sah bagi

anggota masyarakat untuk bekerja atas dasar kesadaran

mereka, mengemukakannya dalam proses konflik dan dialog.

 Dalam filsafat politik, orang yang menganut pluralism sering

dianggap sebagai kaum liberalist, sedangkan orang yang

membahasnya dengan sikap yang lebih kritis terhadap the

diversity of modern societies sering disebut communitarians.

 Dalam politik, pengakuan akan keragaman kepentingan dan

keyakinan di kalangan rakyat merupakan salah satu ciri

terpenting demokrasi modern.

 Karl Marx telah membangun model ekonomi politik berdasarkan

kritiknya terhadap keadaan pada zamannya di Inggris awal abad

20, di mana mereka membahas tentang hubungan-2 sosial dan

hubungan-2 ekonomi yang saling terjalin. Marx mengusulkan

suatu korelasi yang sistematik antara nilai-2 - buruh (labour-

values) dan nilai uang (money prices).

 Beliau mengklaim bahwa sumber keuntungan di bawah sistem

kapitalisme adalah nilai tambah yang dihasilkan oleh para pekerja

yang tidak dibayarkan ke dalam komponen gaji mereka.

Mekanisme ini bekerja melalui pemisahan antara “tenaga buruh”

yang dipertukarkan secara bebas dengan gaji mereka, dan

“buruh” sendiri sebagai aset para kapitalis yang dengan itu

mengontrol keuntungan.

 Berdasarkan itulah, Marx, mengembangkan konsep "surplus

value", yang membedakan karyanya dengan para ekonom klasik

seperti Adam Smith dan David Ricardo.

 Para pekerja menghasilkan cukup nilai (pendapatan)

selama satu periode masa kerja yang pendek utk

mendapatkan gaji pada hari itu (necessary labour);

namun, mereka melanjutkan dengan lembur beberapa jam

untuk menghasilkan tambahan pendapatan (surplus

labour). Nilai pendapatan tersebut tidak mereka terima

kembali, melainkan diambil oleh para kapitalis.

 Jadi, bukan para penguasa kelas kapitalis yang

menciptakan kekayaan (wealth), melainkan para pekerja,

sedangkan para kapitalis menggunakan keuntungan ini

untuk diri mereka sendiri.

Kaum Marxists percaya bahwa aslinya masyarakat kapitalis

dibagi dalam dua kelas sosial yang kokoh:

(a) the working class or proletariat (kelas proletar): Marx

mendefinisikannya sebagai "those individuals who sell their

labor and do not own the means of production" yang

diyakininya bertanggungjawab dalam menghasilkan kekayaan

bagi suatu masyarakat (bangunan, jembatan dan berbagai

perabot, sebagai contoh, yang secara fisik dikerjakan oleh

anggota kelas ini). Ernest Mandel, dalam An introduction to

Capital, memperbarui definisi ini sebagai orang yang bekerja

demi menyambung hidupnya (baik "white collar" or "blue

collar") dan mereka tidak punya tabungan yang berarti, di

mana tabungan yang banyak merupakan ciri tipikal investasi

dalam bentuk abstrak dari alat produksi pada basis

pemegang saham.

(b) the bourgeoisie (kelas borjuis): yaitu orang yang

“own the means of production" dan mengeksploitasi

kaum proletariat. Kaum borjuis bisa dibagi lagi

kedalam the very wealthy bourgeoisie dan the petty

bourgeoisie (mempekerjakan buruh, tapi juga

bekerja sendiri). Mereka terdiri dari para pemilik

usaha kecil, petani pemilik tanah, atau pedagang.

Marx memprediksi bahwa the petty bourgeoisie akan

dihancurkan oleh penemuan kembali alat-alat

produksi dan hasilnya akan menjadi pendorong

gerakan dari mayoritas luas borjuis kecil-kecilan ini

kepada proletariat.

Dalam evolusi sosiologi politik, kurang-

kurangnya ada 4 periode yang dapat

dikatakan dalam sejarah dan perkembangan

dari sosiologi politik, yang pertama adalah

periode klasik, periode ini terjadi selama

kerajaan yunani dan romawi, yang manusia

masih dipandang sebagai binatang politik,

dalam periode klasik ini gerejawi dan raja-

raja betul-betul dipertimbangkan untuk

memperpanjang posisi Tuhan.

Kedua adalah periode ini terjadi pada zaman

pencerahan, ketika dua ideologi besar yang

saling bertentangan apakah manusia

mengabdi pada Negara atau Negara yang

mengabdi pada masyarakat. Ketiga, periode

ini perkembangan dari perdebatan yang

terjadi pada tahap ke dua, tapi lebih focus

pada peran elite politik di dalam masyarakat

modern

Sedangkan yang keempat adalah periode dari

zaman sosiologi politik yang memiliki

karakter sebagai empiris, analisis, dan

memilih dalam departemen dan kebidangan

social politik atas dasar persetujuan bersama,

serta pembangunan empiris dengan teori

besar sebagai pusat perkembangan



politik

No comments:

Post a Comment